Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Sejarah

Film Dokumenter Nahdlatul Ulama (NU) dan Sejarah Kebangsaan

×

Film Dokumenter Nahdlatul Ulama (NU) dan Sejarah Kebangsaan

Sebarkan artikel ini
SORBANSANTRI.COM
Tiga-Pendiri-Nahdlatul-Ulama
SORBANSANTRI.COM
Tiga-Pendiri-Nahdlatul-Ulama


cyberaswaja.online –
Film berdurasi 54 menit 45 detik ini merupakan Film Dokumenter Nahdlatul Ulama (NU) dan Sejarah Kebangsaan. Film ini mengungkap sejarah-sejarah yang terhapus dan perjalanan Nahdlatul Ulama sejak sebelum berdirinya hingga masa kini.

Narasumber dalam film dokumenter yang dipersembahkan oleh Yayasan Ircos Jakarta dan Yayasan 135 ini, antara lain :
1. KH. A. Musthofa Bisri
2. Prof. Dr. KH. Said Aqil Sirodj, MA.
3. KH. Muchitz Muzadi
4. Yenni Wahid, MA
5. KH. Hasyim Muzadi
6. Prof. Dr. Mohammad Mahfud MD, MH, MU
7. Ir. KH. Salahuddin Wahid
8. Dr. Andree Feillard

Example 500x500

Film dokumenter ini sangat penting untuk ditonton oleh seluruh warga NU khususnya, masyarakat Indonesia pada umumnya. Sebab pentingnya sejarah Indonesia sertai kaitannya dengan organisasi Islam terbesar di Indonesia, bahkan di dunia, yakni Nahdlatul Ulama.

Sayangnya, dalam video itu keliru mencantumkan logo NU. Didalam video ini terdapat logo “NU Salah” pada menit ke 02:12 yang memang banyak beredar di internet, bahkan tak jarang digunakan oleh sebagian warga NU yang kurang teliti menggunakan logo NU. (abi-sorban)

Example 300250
Example floating

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SORBANSANTRI.COM
Kisah Kiai dan Ulama'

Tahukah kalian tentang Ibnu Khaldun? Beliau adalah pemikir terkemuka abad ke-14 yang dikenal luas karena karyanya, “Muqaddimah.” Ibnu Khaldun lahir pada 27 Mei 1332 di Tunisia dalam keluarga berpengaruh. Melalui “Muqaddimah,” ia memperkenalkan konsep asabiyyah atau solidaritas sosial sebagai kunci kebangkitan dan kejatuhan peradaban.

SORBANSANTRI.COM
Nahdlatul Ulama'

Tragedi ini seharusnya menjadi pelajaran penting bahwa rakyat Indonesia hanya menginginkan Pancasila sebagai dasar negara. Namun, ketika Muso menyebarkan komunisme, mengapa Rabithah Alawiyah (RA) tidak memperingatkannya?