sorbansantri.com Situbondo, 1984 – Di tengah gegap gempita suasana Mu’tamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-27, lahirlah sebuah keputusan besar yang mengubah arah organisasi. Para ulama besar dengan penuh ketulusan dan hati nurani yang bersih sepakat untuk mengembalikan NU ke Khittah 1926, melepaskan diri dari politik praktis demi menjaga murninya perjuangan agama dan kemasyarakatan.
Namun, kini pada tahun 2024, kita menyaksikan sesuatu yang menyayat hati. Para pengurus NU secara terang-terangan mendeklarasikan dukungan politik. Lebih menyedihkan lagi, tindakan ini dipimpin oleh seseorang yang mengaku sebagai dzurriyah pendiri NU. Mereka, yang seharusnya menjadi penjaga warisan leluhur, justru mengkhianati amanat suci tersebut.

Fatwa Mu’tamar ke-27 menegaskan bahwa NU harus berdiri di atas segala golongan, bebas dari kepentingan politik praktis. Fatwa ini bukanlah sekadar dokumen, melainkan pesan dari hati para pendiri NU yang berharap agar kita tetap teguh pada jalan yang benar, tanpa terjebak dalam pusaran politik yang bisa mengaburkan misi suci kita.
Sebagai warga Nahdliyin, mari kita renungkan dengan hati yang jernih. Apakah kita akan mengingkari fatwa para muassis yang telah memberikan segalanya untuk NU? Ataukah kita akan terbuai oleh pendatang baru yang mengingkari Khittah yang telah ditetapkan dengan penuh perjuangan dan doa?
Tanyakan pada hati nurani kita masing-masing. Apakah kita mau menghormati warisan para pendiri atau justru menghancurkannya demi kepentingan sesaat? Kembali ke Khittah bukan hanya tentang mengikuti aturan, tetapi juga tentang menjaga kehormatan dan keluhuran nilai-nilai yang telah diwariskan kepada kita.
Mari, dengan segenap hati dan jiwa, kita kembalikan NU pada jalur yang benar. Kita jaga amanat para pendiri dan teruskan perjuangan mereka dengan tulus dan ikhlas. Semoga Allah SWT memberikan kita kekuatan dan keberkahan untuk tetap istiqamah di jalan yang diridhoi-Nya. (AI Sorban)