Finansial Sebuah Perjuangan adalah permasalahan klise yang diwariskan secara turun temurun sejak zaman Pangeran Diponegoro melawan penjajahan Belanda. Sampai saat ini pun, Hal ini menjadi pokok topik pergerakan sebuah perkumpulan, termasuk Nahdlatul Ulama. Di awal pendiriannya, Finansial perjuangan bertumpukan pada jihad bil-maal saudagar-saudagar kaya yang ada di Surabaya. KH. Hasan Gipo, Ketua pertama Hoofdbestuur Nahdlotoel Oelama termasuk dalam golongan ini. Tiga Kyai utama perkumpulan ini juga tergolong dalam golongan ulama kaya pada zaman itu. KH. Hasyim Asy’ari, berdagang kuda pada setiap selasa di pasar Tjukir. Disamping itu, Sawah yang dimiliki beliau cukup luas. Begitupun KH. Wahab Chasbulloh, Tambakberas dan KH. Bisyri Syansuri, Denanyar.
Sampai saat ini, ~setelah hampir satu abad umur perkumpulan~ Tetap saja masalah ini menjadi masalah laten. Kadang seakan-akan teratasi tapi sejurus kemudian, mak bedunduk muncul lagi. Dengan usia yang sudah sedemikian sepuh nya, ternyata masalah mendasar bagi sebuah perkumpulan, yakni finansial tetap saja belum teratasi dengan baik. Dengan masalah mendasar yang sedemikian, seharusnya NU sudah hilang dari peredaran zaman. Tapi nyatanya, daya survival nya sangat kuat. Daya survival yang demikian, bisa jadi karena adanya peran besar tokoh-tokoh lokal di daerah yang memperjuangkan eksistensi perkumpulan ini. Faktor terkuatnya, tentu hubungan sanad keilmuan dan sanad perjuangan dan tentu keberkahan yang nerembes dari para muassis (pendiri).













