SORBANSANTRI.COM – Setelah mesin pencari berevolusi menjadi mesin pemahaman berbasis kecerdasan buatan (AI), muncul satu pertanyaan mendasar: masihkah penulis manusia memiliki peran? Dalam Kajian Sorban Santri, jawabannya justru semakin tegas—peran penulis manusia bukan berkurang, tetapi berubah dan semakin bermakna.
AI mampu menyusun kalimat, merangkum data, bahkan meniru gaya bahasa. Namun ada wilayah yang tidak dapat sepenuhnya digantikan mesin, yakni niat, nilai, dan tanggung jawab keilmuan.
Penulis Bukan Sekadar Pembuat Teks
Dalam tradisi santri, menulis adalah bagian dari amal ilmu. Tulisan bukan sekadar rangkaian kata, melainkan jejak pemikiran dan kesaksian zaman. Di era AI, penulis manusia tidak lagi sekadar produsen teks, tetapi penjaga makna.
AI dapat membantu mempercepat proses, namun manusia tetap memegang kendali atas:
- Sudut pandang (perspektif)
- Kejujuran intelektual
- Keberpihakan pada kebenaran
Tanpa itu, tulisan berisiko menjadi dingin dan hampa nilai.
Akal Manusia sebagai Penentu Arah
Kajian Sorban Santri menekankan bahwa AI bekerja berdasarkan pola dan data masa lalu. Sementara manusia diberi akal untuk menimbang, mengkritik, dan melampaui pola. Di sinilah letak perbedaan mendasar.
Penulis manusia berperan:
- Menguji kebenaran informasi
- Memberi konteks sosial dan kultural
- Menyampaikan hikmah, bukan sekadar fakta
AI bisa menjawab “apa”, tetapi manusialah yang menjelaskan “mengapa” dan “untuk apa”.
Adab Digital: Nilai yang Tak Bisa Diprogram
Dalam dunia pesantren, adab selalu didahulukan sebelum ilmu. Prinsip ini semakin relevan di era AI. Penulis manusia bertanggung jawab menjaga etika digital: tidak menyesatkan, tidak memanipulasi, dan tidak mereduksi ilmu menjadi sekadar konten.
Kajian Sorban Santri mencatat bahwa AI tidak memiliki rasa tanggung jawab moral. Maka, manusialah yang harus memastikan tulisan:
- Tidak melukai martabat manusia
- Tidak memperkeruh ruang publik
- Tidak memproduksi kebencian demi klik
Kolaborasi, Bukan Kompetisi
Alih-alih melihat AI sebagai ancaman, Sorban Santri memandangnya sebagai alat bantu (wasilah). Penulis manusia yang bijak akan menggunakan AI untuk:
- Riset awal
- Penyusunan kerangka
- Efisiensi teknis
Namun keputusan akhir tetap berada di tangan manusia, sebagaimana santri tetap bermusyawarah meski kitab tersedia.
Menjadi Penulis yang Relevan di Masa Depan
Penulis masa depan bukan yang paling cepat, tetapi yang paling bertanggung jawab. Bukan yang paling viral, tetapi yang paling bernilai. Di tengah banjir konten, AI justru akan mengangkat tulisan yang menunjukkan keaslian pikiran dan konsistensi nilai.
Kajian Sorban Santri menutup dengan satu catatan penting:
Di era AI, manusia tidak bersaing dengan mesin, melainkan bersaing dengan kelalaiannya sendiri—apakah ia mau berpikir, atau menyerahkan sepenuhnya pada algoritma.












