Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita DuniaBeritaBerita InternasionalBerita UtamaNahdlatul Ulama'Tokoh

PBNU ke Depan: Kepemimpinan yang Menjaga Akar, Menyapa Zaman

×

PBNU ke Depan: Kepemimpinan yang Menjaga Akar, Menyapa Zaman

Sebarkan artikel ini
SORBANSANTRI.COM
Ilustrasi oleh AI

Oleh :
Abdul Ghofar Fathoni
Ketua PC LBMNU Kab. Mojokerto

Dinamika kebangsaan, perubahan sosial yang cepat, serta tantangan internal umat menuntut PBNU dipimpin oleh figur yang tidak hanya kuat secara struktural, tetapi juga matang secara kultural dan visioner secara strategis. NU hari ini membutuhkan kepemimpinan yang mampu menjaga tradisi sekaligus memandu transformasi. Dalam konteks itulah, duet KH. Said Aqil Siradj sebagai Rais Aam dan Gus Salam sebagai Ketua Umum PBNU menjadi pilihan yang relevan dan rasional.

Example 500x500

Sebagai Rais Aam, KH. Said Aqil Siradj memiliki legitimasi keilmuan dan pengalaman yang tidak diragukan. Beliau bukan hanya sosok ulama dengan basis intelektual kuat, tetapi juga figur yang telah teruji dalam memimpin NU di tengah dinamika politik dan sosial yang keras. Kapasitasnya dalam merawat khittah, menjaga marwah ulama, serta memosisikan NU sebagai kekuatan moral bangsa adalah modal penting untuk kepemimpinan ke depan.

Baca Juga  MADRID SANG JUARA CHAMPIONS

Lebih dari itu, KH. Said dikenal memiliki jejaring luas, baik di tingkat nasional maupun internasional. Hal ini menjadikannya figur strategis dalam menjaga posisi NU sebagai organisasi Islam moderat yang berpengaruh dan diperhitungkan. Di tengah meningkatnya polarisasi dan ekstremisme, kehadiran Rais Aam yang berwibawa dan diterima lintas kelompok menjadi kebutuhan mendesak, bukan sekadar pilihan.

Sementara itu, posisi Ketua Umum PBNU membutuhkan sosok eksekutor yang lincah, komunikatif, dan adaptif terhadap perubahan zaman. Gus Salam merepresentasikan kebutuhan tersebut. Ia membawa semangat generasi baru NU yang memahami tata kelola organisasi modern, penguatan ekonomi umat, serta pentingnya inovasi dalam pelayanan jam’iyyah. Kepemimpinannya diharapkan mampu menggerakkan mesin organisasi secara lebih efektif dan profesional.

Gus Salam juga memiliki kedekatan kultural dengan kader muda NU tanpa kehilangan akar tradisinya. Ini penting untuk menjembatani jarak antara struktur dan basis, antara nilai-nilai pesantren dan tantangan era digital. NU tidak boleh terjebak nostalgia, tetapi juga tidak boleh tercerabut dari akarnya. Gus Salam berada di titik temu itu.

Baca Juga  ARAB SAUDI MENANGKAP ULAMA-ULAMA WAHABI

Kombinasi KH. Said Aqil Siradj dan Gus Salam mencerminkan keseimbangan antara hikmah dan energi, antara kebijaksanaan ulama sepuh dan dinamika kepemimpinan muda. Rais Aam menjadi penjaga nilai dan arah, sementara Ketua Umum menjadi penggerak program dan konsolidator organisasi. Relasi ini bukan tumpang tindih, tetapi saling melengkapi.

Pada akhirnya, kepemimpinan PBNU ke depan harus mampu menjawab dua hal sekaligus: menjaga jati diri NU dan mempersiapkannya menghadapi masa depan. Duet KH. Said Aqil Siradj dan Gus Salam menawarkan harapan akan kepemimpinan yang stabil, inklusif, dan progresif—sebuah kepemimpinan yang tidak hanya kuat di dalam, tetapi juga relevan di hadapan umat dan bangsa.

Example 300250
Example floating

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SORBANSANTRI.COM
Berita

Struktural dan kultural, dua elemen penting di tubuh Nahdlatul Ulama yang kerap dibenturkan. Padahal, keduanya saling melengkapi. NU Struktural menjadi penggerak organisasi, sementara NU Kultural menjaga tradisi Islam Nusantara yang khas. Sayangnya, dikotomi ini justru memicu konflik, apalagi ketika politik praktis ikut campur.

SORBANSANTRI.COM
Tokoh

Marzuki dikenal sebagai Ketua PWNU Jawa Timur periode 2018-2023, di mana beliau berupaya meningkatkan kualitas pendidikan dan dakwah NU. Selain itu, beliau aktif dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan.